10 November
10 November
Hari penuh arti
Ketika semua memori datang kembali
Saat itulah kulihat dirimu
Seorang yang kukira semu
Kutatap dengan hati yang bergelora
Seperti semangat para pahlawan Indonesia di tahun 1945
10 November
Hari penuh harapan
Semua keinginan datang menyambar
Seperti harapan rakyat ingin merdeka
Di hari itu kudatang padamu
Busung dada seolah menopang senjata
Dengan penuh malu tapi mau kutatap dirimu
Kaupun tersenyum seolah merdeka
10 November
Hari perjuangan
Hari penuh arti
Dan hari penuh harapan
Hanya 1 yang kumau
Memproklamasikan perasaanku padamu
Bagai Soekarno yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia
Bagaimana caranya?
Sulit memang dirasa
Seperti para pemuda Indonesia
Yang memikirkan cara agar merdeka
Bibirku tergerak tanpa sadar
Terhipnotis wajah tampanmu yang berwibawa
Keluarlah suaraku yang seperti mendesakmu
Seperti para pemuda yang mendesak Soekarno-Hatta cepat membacakan proklamasi
Aku sayang padamu...
Kukatakan itu padamu
Disaksikan langit dan bumi
Disertai kibaran sang saka merah putih
10 November
Hari kita berdua
Hari para pahlawan
Hari untuk bangsa Indonesia
Kak Daniel,
Saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat kakak berdiri tegak dihadapanku layaknya seorang pahlawan yang telah gagah berani berjuang demi negeri ini. Ya, kakak membuatku kagum akan sosok kakak. Semenjak itu aku berusaha rajin datang latihan paskib sebagai persiapan upacara 17 Agustus.
Wajah kakak saat tersenyum dengan suksesnya menyihirku untuk tersenyum lebih lebar. Membuatku tidak pernah sekalipun merasakan rasanya diberi daun oleh kakak-kakak yang lain. Melihat kakak tersenyum rasanya melegakan, seperti saat ketika aku melihat Merah Putih berkibar dengan indahnya.
Aku pernah, saat puncak pelatihan kemarin diberi daun. Jelas saja karena mataku ditutup sehingga tidak bisa melihat wajah kakak.
Setiap kali aku latihan, yang pertama kucari adalah kakak. Kakak adalah penyemangatku. Setiap teringat kalimat itu, aku jadi merasa seperti rakyat Indonesia tempo dulu yang butuh Soekarno sebagai penyemangat mereka.
Ketika aku melihat mata kakak menatap tajam, tatapan itu berhasil mengunci tatapanku pada kakak. Sekuat seorang pahlawan yang menahan para penjajah.
Aku akan berjuang demi kakak. Aku nggak mau kehilangan seorang pahlawan lagi setelah aku kehilangan 2 pahlawan terbesarku untuk selamanya.
Kak, waktu kita pertama kali bertemu, aku langsung jatuh hati pada kecantikan kakak. Karena kecantikan kakak itu tiada tandingannya. Sebab kakak memiliki binar mata yang indah bagaikan sinar matahari yang menyinari bendera merah putih. Bukan hanya itu, merah bibirmu yang indah semerah warna merah pada bendera merah putih. Dan kulitmu secerah warna putih pada bendera merah putih. Serta ketulusan hatimu bagaikan putihnya warna bendera merah putih dan senyummu semanis senyuman seorang pembawa baki. Namun, tetaplah senyumanmu lebih manis dari apapun juga.
Dan gerakan rambutmu jika dikibaskan, sehalus gerakan sang bendera merah putih kala ia tertiup angin ketika dikibarkan. Dan derap langkahmu ketika berjalan membuat hatiku cenat-cenut. Dan..... inilah cintaku kakak! Hanya kepadamu seorang. Sebab tiada lain di hatiku ini selain engkau, hanya wajahmulah yang selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpi malamku.
Dan inilah cintaku yang setinggi tiang bendera dan yang putih sehalus putihnya bendera merah putih hanya padamu kak Meutia. Dan jika diibaratkan kita berdua bagaikan bendera merah putih, kakak yang tercinta berwarna putih, sedangkan aku berwarna merah. Merah selalu melindungi yang putih. Dan inilah aku yang mau melindungimu, menjagamu, serta berkorban untukmu. Dan bagaikan seorang pahlawan yang berperang demi mempertahankan bangsa Indonesia.
Kak, pertanyaanku : Maukah kakak jadi pacarku?
Label: Kegiatan